KETEGARAN SOSOK MURSYID
Coretan dari Dari Serambi Madinah dipenghujung
Desember 2017
Beberapa pekan yang silam...duka
menyelimuti keluarga besar Warga Paguyuban Seni Beladiri Pernapasan Tapak Wali
Indonesia. Dari berbagai penjuru nusantara mengalun doa dipohonkan kepada yang
maha agung, agar arwah almarhuma Bunda Guru Haja Nurbaya Azis, MMG mendapat tempat yang
layak dan indah dalam mahligai yang diliputih kasih sayang sang Pencipta.
Innalillahi wainna lillahi rojiun
menjadi peringatan bagi hamba yang beriman, bahwa setiap makhluk yang bernyawa akan
melewati pintu kematian. Dan kematian
itu adalah rahasia, kedatangannya tak
terduga kapan dan dimana, saat jiwa dan jasad dipisahkan.
Jika demikian adanya, pantaskah hambanya yang lemah berdiri angkuh dengan apa yang diraih dipermukaan bumi tempatnya berpijak dan menjunjung langit?!
Jika demikian adanya, pantaskah hambanya yang lemah berdiri angkuh dengan apa yang diraih dipermukaan bumi tempatnya berpijak dan menjunjung langit?!
![]() |
Saat terindah Bunda bersama suami tercinta YM Gubes TWI |
Jemari ini nyaris tak mampu menulis,
mengungkapkan berbagai kebaikan almarhuma, meskipun saya mengenal beliau dalam hitungan
waktu yang tak lebih dari 5 tahunan.
Sentuhan kasih seorang bunda
sangat terasa ketika berada didekat ibu seluruh warga Tapak Wali Indonesia.
Pribadi yang tak pernah mengenal perbedaan
strata sosial, apalagi menjulangkan segala limpahan karunia yang dianugerahkan
kepada keluarga besar, Guru besar Tapak Wali Indonesia.
Senyum adalah bahasa universal
yang tak butuh baca dan tulis, selalu menghiasi dan memaknai wajah sang
Mursyid dan isteri tersayang. Setiap kehadiran mereka selalu membawa keteduhan dan menebar
aroma kebaikan, sehingga bersemayam dan mengakar dalam
kalbu setiap muridnya.
![]() |
Saat Kedatangan YM Gubes di Provinsi Gorontalo dalam rangka pewisudahan wraga TWI |
Senin 25 Desember 2017, pukul 19.05
wita, saya larut dalam kesedihan, disaat
memeluk
Bertemu dengan yang mulia Guru
Besar kali ini, saya larut dalam keharuan, hati ini semakin
tunduk dan kagum melihat ketegaran sang Mursyid, justru berbalik menghibur
duka kami, bahwa berpulangnya almarhum bunda Guru adalah janji mutlak tak bisa
dirubah oleh siapapun.
Kata sejuk mengalir dari bibir
yang selalu bertengger senyuman, sejuk dan damai memeluk erat batin siapa saja
yang mendengar nasehat dan kata bijak beliau. Hakekat rasa yang mampu
merahasiakan kodratnya sebagai manusia, ketika lelah dan penat menderah, setelah
mengarungi lautan dan menyusuri ribuan kilometer jalan yang berkelok, semata
mengemban amanah didalam menebar kebaikan dipenjuru nusantara.

Pada pembahasan masa pewisudahan kali
ini, bait kata sangat meresap pada hati warga TWI Gorontalo, hingga mobil Fortune
yang bernomor Polisi DT 1 NA membawa Sang Mursyid berlalu mengarah selatan Sulawesi.
Dipenghujung coretan ini...saya menitip asa pada saudara-saudaraku warga TWI di Gorontalo, bahwa pencapaian ilmu dan perubahan sikap kearah yang lebih baik, tidak membutuhkan ungkapan pengakuan, selain menuntut perbuatan baik (Af’al) dalam rangka menebar kebaikan diserambi Medinah, dengan harapan bertambah lapangan gerak Tapak Wali Indonesia diKota Gorontalo dan sekitarnya...Insya Allah